Tekan Stunting Lewat Germas

Bintuhan- Dinas Komunikasi, Informasi, Statistik dan Persandian Kabupaten Kaur bekerja sama dengan Kementrian Kominikasi dan Informasi RI melalui Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik mengelar Forum Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Gedung serbaguna padang kempas, Kamis (26/5). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai awal implementasi Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang bertujuan yang bertujuan agar seluruh masyarakat terbiasa berprilaku hidup sehat dan di buka langsung oleh Wakil Bupati Kaur Yulis Suti Sutri SKMWakil Bupati Kaur dalam sambutannya mengatakan forum sosialisasi gerakan masyarakat hidup sehat dalam penurunan prevalansi stunting kabupaten kaur merupakan salah satu upaya untuk menyatukan persepsi dan membangun kerjasama berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, akademisi, media massa, tokoh masyarakat, dunia usaha, NGO, organisasi profesi dan sebagainya dalam mempercepat perbaikan kesehatan di Indonesia.

Wabup menambahkan dirinya juga mengapresiasi kepada Direktur Kemitraan Komunikasi Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementrian Komunikasi Dan Komunikasi RI, dan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI serta semua pihak yang terlibat atas penyelenggaraan workshop ini, guna menggalang kebersamaan berbagai pihak dalam upaya percepatan perbaikan kesehatan. Demi terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai bagian dari kesejahteraan masyarakat yang kita cita-citakan.

Lebih lanjut Wabup menjelaskan bahwa saat ini indonesia mengalami masalah kesehatan yang cukup kompleks, karena indonesia termasuk Didalam 17 negara diantara 117 negara yg mempunyai ketiga masalah gizi, yaitu Stunting, Wasting dan Over Weight.

Disamping itu lanjut wabup Indonesia juga termasuk didalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah stunting pada balita dan anemia pada wanita usia subur (wus). “Kekurangan gizi pada awal kehidupan berdampak serius terhadap kualitas SDM di masa depan. Terjadinya kurang gizi menyebabkan kegagalan pertumbuhan, berat Badan lahir rendah, kecil, pendek, kurus, serta daya tahan tubuh yang rendah dalam Perkembangannya seorang anak yang kurang gizi akan mengalami hambatan perkembangan kognitif dan kegagalan pendidikan sehingga berakibat produktivitas di masa dewasa” ujar Wabup

“Kurang gizi yang dialami saat awal kehidupan juga berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik yang berujung pada kejadian penyakit tidak menular seperti diabetes type II, stroke, penyakit jantung, dan lainnya pada usia dewasa” tambah wabup Rendahnya tingkat masalah kesehatan yang terus terjadi tentunya dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional, sehingga investasi kesehatan dalam hal ini sangat diperlukan, untuk memutus lingkaran masalah yang pada jangka panjang akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia, masalah kesehatan yang terjadi di Indonesia terkait erat dengan masalah gizi dan kesehatan ibu hamil dan menyusui, bayi yang baru lahir dan anak usia di bawah dua tahun (baduta), termasuk remaja putri. Oleh karena itu kebijakan perbaikan gizi saat ini, mulai difokuskan pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dengan pendekatan intervensu spesifis dan sensitive.

Pada tahun 2020, Indonesia akan memiliki puncak jumlah penduduk dengan usia produktif atau yang disebut bonus demografi. Mayoritas penduduk pada saat itu adalah usia produktif,  sehingga kualitas generasi di masa tersebut akan menentukan peluang indonesia menjadi negara maju khususnya Kabupaten Kaur ini. SDM dengan dampak trans-generasi, maka perbaikan gizi pada masa ini menjadi sangat penting dan perlu menjadi prioritas bagi seluruh pihak yang terkait termasuk akademisi.

Wabup berharap keterlibatan dan dukungan dari pemangku kepentingan lain, seperti mitra pembangunan, LSM, perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha bergandeng tangan memperbaiki keadaan kesehatan Indonesia khususnya di Kabupaten Kaur.

“Saya percaya, kita akan mampu mencapai hasil yang lebih baik ditahun kedepan apabila kita dengan sungguh sungguh melakukannya, dalam mewujudkan manusia indonesia yang sehat, produktif dan berdaya saing.” Pungkas wabup

Sementara itu Direktur Kemitraan Komunikasi Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi Publik, Kementrian Komunikasi dan Komunikasi RI Dedet Surya Nandika mengatakan saat ini permasalahan kesehatan yang timbul diakibatkan oleh pola hidup masyarakat yang tidak sehat, diperlukan upaya promotif dan preventif yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga demi terwujudnya masyarakat yang sehat dan berkualitas.

Pemerintah Indonesia mentargetkan bahwa 2030 tidak ditemukan lagi kasus baru stunting (tumbuh pendek,), pemerintah juga mentargetkan untuk menurunkan angkanya menjadi 20 persen cut point dari seluruh persoalan kesehatan masyarakat atau individual. Sementara untuk cakupan imunisasi sendiri, pemerintah mengharapkan agar ada coverage sebesar 100 persen pada tahun 2020.

penyebabnya stunting adalah kelainan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi secara kronis, terutama di 1.000 hari kehidupan. Biasanya hal ini berkenaan dengan ketersediaan pangan. Namun untuk Jatim sendiri, ketersediaan makanan kita sudah melampaui cukup, bahkan sampai diekspor.

“Maka yang perlu di titik beratkan adalah pengetahuan gizi masyarakat. Sehingga perlu diadakannya pendampingi, pendekatan bimtek dan sosialisasi supaya makannya baik, maka dari itu ada Germas,” terang Dedet

Ia menambahkan, untuk mencapai target ini, dibutuhkan perbaikan dalam aspek kebijakan. Karena semua persoalan utamanya dalam kesehatan bermuara pada aspek kebijakan dan teknis. Aspek kebijakan ini mencakup seluruh kepala dinas dan direktur yang membawahi seluruh staf-stafnya.

Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah saat ini untuk menangani tiga persoalan di atas yakni dengan menetapkan 1000 desa di 100 kabupaten/kota sebagai prioritas dalam program ini. Di Provinsi Bengkulu sendiri, Hanya Kabupaten Kaur ditemukan kasus stunting yang berjumlah 5000 penderita yang tersebar di 10 desa di 8 kecamatan .Dedet memaparkan mengenai program Germas yang akan diterapkan diseluruh lintas sektor. Tahun ini Germas difokuskan pada 3 kegiatan utama, yaitu: 1) Melakukan aktivitas fisik, 2) Mengonsumsi sayur dan buah dan 3) Memeriksa kesehatan secara rutin. Ketiga fokus ini dilakukan untuk  mewujudkan paradigma sehat dengan tujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat.

Peran seluruh lintas sektor diperlukan untuk mewujudkan keberhasilan implementasi Germas. Untuk itu, Pemerintah Daerah Kab/ Kota dapat melakukan; 1) Advokasi kepada Gubernur/Bupati/Walikota untuk menerbitkan kebijakan terkait bidang kesehatan dengan menggunakan data IPM 2015, IPK 2013, Hasil PSG 2015 dan monitoring STBM 2015; 2) Melakukan pertemuan dengan SKPD, ToMa/ToGa dan Dunia Usaha serta Akademisi untuk menerapkan Germas melalui Perilaku Hidup Bersih Sehat di tatanan masing-masing; 3) Memberikan contoh penerapan kebijakan aktivitas fisik dalam bentuk olahraga; 4) Menyebarluaskan informasi tentang manfaat konsumsi sayur dan buah; 5) Menyediakan sarana pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi masyarakat; 6) Menjalin kerjasama dengan Dinas Pertanian untuk memanfaatkan pekarangan rumah untuk tanaman sayur dan buah; dan 7) Melakukan kegiatan deteksi dini kanker payudara dan leher rahim pada perempuan.

Pelaksanaan Germas harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, lintas sektor baik Pemerintah Pusat dan Daerah, swasta, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat untuk bersama berkontribusi menciptakan gerakan masyarakat hidup sehat dengan tujuan Kesehatan masyarakat terjaga, jika sehat maka produktivitas akan meningkat, terciptanya lingkungan perilaku hidup sehat dan terwujudnya bangsa yang mandiri, maju dan sejahtera. (tp)